Flatmates Drama (1)

4:41:00 AM


"I swear I don't love the drama, it loves me."
(Taylor Swift - End Game)

True that. Bisa dibilang saya diikuti oleh drama-drama yang tidak bisa saya hindari selama saya tinggal di Milan (here). I must say that probably this city itself is full of drama. Baik itu drama perkuliahan, benturan antar manusia (dengan jumlah manusia yang super banyak di sini dengan berbagai macam kepentingan dan latar belakang), masalah keuangan, birokrasi, maupun masalah perkotaan Milan ini sendiri, dan juga drama yang seharusnya tidak diperlukan untuk menambah beban pikiran; drama rumah. Let's say flatmates drama.



Saya sudah pindah rumah sebanyak tiga kali (here), dan entah sudah berapa flatmate maupun tetangga rumah yang saya alami selama saya tinggal di Milan. Hidup dalam satu apartemen dengan dua, tiga, empat, sampai lima orang yang berbeda-beda bukan hal yang mudah karena perbedaan kultur dan kebiasaan masing-masing dalam kesehariannya. Dalam post ini, yang akan saya ceritakan juga macam-macam asal dari berbagai macam negara di Eropa, Amerika, dan ada juga yang dari Asia (saya sengaja tidak menyebutkan asal negara mereka), dan bukan semuanya pelajar seperti saya. 

Early disclaimer; I'm such a chill person to stay with (in my opinion, haha). Kadang-kadang saya merasa seperti berada di reality show 'Penghuni Terakhir' alias betah-betahan aja tinggal di flat. Anyway, saya akan menceritakan beberapa hal yang saya anggap menarik untuk diceritakan dan patut dijadikan refleksi untuk diri saya sendiri, maupun untuk kalian. Mungkin juga tidak semua adalah flatmates, namun orang-orang di sekitar apartemen atau tempat saya tinggal. I'll make it in a list (I put the orders without purpose), so, enjoy the list and the stories!

1. Flatmate dengan Pendengaran Super Sensitif

Flatmate ini tinggal di kamar sebelah saya, sebut saja Cempaka, mahasiswa di universitas yang sama dengan saya, dan dia sangat sensitif terhadap bunyi-bunyian apapun itu. Waktu itu kami tinggal di apartemen di lantai dasar sebuah bangunan, kebetulan, mungkin sistem akustiknya kurang oke atau bagaimana, kalau ada kegaduhan di lantai atas (lantai 1), akan berimbas ke apartemen kami. For me that was okay. Kalau dianalisis dari suaranya sih, sepertinya apartemen atas adalah apartemen keluarga dan memiliki anak kecil yang lagi seneng-senengnya lari-lari, jadi suara yang terdengar seperti langkah kaki berlari, tapi suaranya ringan (bukan orang dewasa), dan hampir setiap hari seperti itu. Pada dasarnya saya yang memang tukang tidur, jadi tidak begitu terganggu dengan suara tersebut. Lain halnya dengan Cempaka, dia super duper merasa terganggu dan suka ngomel-ngomel karena hal itu. Ya gimana mau protes ke saya, saya juga bukan yang punya apartemen ini pak.


Awalnya saya kira mungkin memang karena anak-anak di atas ini berisiknya susah ditoleransi pendengaran awam, tapi ternyata memang karena si Cempaka aja yang super sensitif. Suatu hari saya mencuci baju (dengan mesin cuci), di ruang cuci (yang berpintu), yang kalau ditutup pintunya, suaranya menjadi samar-samar. Doi marah-marah ke saya, katanya jangan mencuci baju malam-malam (jam 9), while, as I know, mencuci malam itu disarankan karena biaya listrik yang lebih murah di malam hari (strategi Landlord untuk berhemat), dan biaya listrik yang lebih tinggi di siang hari (karena diutamakan untuk aktivitas perkantoran). Si Cempaka ini juga sering marah-marah dan menggedor dinding kamar saya karena saya dianggap berisik. Karena saya teleponan sama teman lah, atau apa. Ya Lord. Sampai suatu hari ada kebutuhan bersama dan saya perlu mengetuk pintu kamarnya, susah banget doi bangun, ternyata si Cempaka ini pakai penyumbat kuping karena apartemen ini dianggap terlalu berisik. Astaga. *facepalm* Dalam hati saya mikir juga, ini kalau ada apa-apa di rumah, apa kebakaran atau apa, dia nggak denger juga bukan salah kita-kita.

PS: Later on, setelah saya pindah ke rumah lain, saya tidak pernah tuh dibilang berisik. Berarti kemungkinan besar memang si Cempaka ini aja yang super sensitif.

2. Flatmate dan Hobi Tata Ruangnya

Another drama, ada juga si Cempiki, katanya sih dia kuliah di jurusan Manajemen, tapi attitude sehari-harinya sudah seperti anak Interior. Hobinya bukan beres-beres rumah, tapi memindah-mindahkan furnitur rumah! Tanpa izin flatmates lain!

One day, saya pulang dari kampus dan mau ke ruang tamu/ruang makan dan dapur, agak kebingungan karena tata letaknya berubah, sofa bergeser posisi, meja makan berubah posisi, kursi-kursi, semua berbeda. Waktu saya ke dapur, pun banyak posisi-posisi yang berpindah. Saya sampai bingung, alat masak saya ditaruh mana? Kenapa ini di sini? Lemari ini kok jadi isi ini? Itu? Dan sebagainya. Waktu saya bertemu dia (oh ya, si Cempiki ini anak baru di apartemen), kami berkenalan, basa-basi, dan dia bilang; "Addina, I moved everything to make it more comfortable."
And I was like....... mba baru satu hari di sini udah pindah-pindahin seisi dapur dan ruang makan biar NYAMAN. Nyaman buat dirinya sendiri pastinya yha?


Ternyata, selain menata ulang dapur, ruang tamu, dan ruang makan, dia juga menata ulang kamarnya (which is okay for me), karena malamnya saya bisa dengar suara perabotan bergeser-geser. Menurut saya, menggeser posisi furnitur totally okay, tapi, tidak bisa dilakukan tanpa persetujuan flatmates lain, karena dia tidak tinggal sendiri, dan dia anak baru, benar-benar baru pagi itu datang, dan merubah semua tata letak agar nyaman? Logic?

PS: Saya bilang ke dia kalau pindah-pindah sebaiknya bilang yang lain dulu, dan jangan sembarangan memindah-mindahkan barang orang (yang bukan miliknya dan atau milik bersama).

3. Flatmate dan Drama Kantong Plastik

This! Sebenarnya drama masalah ini bukan cuma sama flatmate ini sih, tapi drama dengan si Mawar ini benar-benar drama yang mengena di hati saya. Ceritanya, di flat tersebut, masing-masing penghuni memiliki jadwal untuk piket yang termasuk juga dalam menyapu, mengepel, dan buang sampah. Singkat cerita, minggu lalu saya memang piket, dan saya juga mengganti kantong plastik dengan yang ada untuk bersama. Tapi sebenarnya, kantong plastik tersebut pun saya yang membeli, dan ketika hari terakhir saya piket, kantong tersebut habis, dan sampahnya juga masih sedikit, jadi saya biarkan saja, toh masih sedikit, sayang kantongnya. Oh ya, di sini juga ada dua jenis kantong plastik, untuk sampah basah (umido), kami menggunakan kantong plastik bio yang bisa hancur, untuk sampah plastik menggunakan yang biasa, dan untuk yang kertas, plastik nya tidak boleh diikutsertakan. Intinya; memang ribet. Kebetulan lagi, keesokan harinya saya harus pergi ke negara tetangga. Jadi yasudah, saya sudah beres piket, tinggal sampah (yang masih sedikit), dan yang lainnya sudah saya bereskan.

Shit happened. Dua hari kemudian, si Mawar ini ngomel-ngomel di grup flat, dan bilang kalau saya sengaja tidak membuang sampah dan sengaja tidak beli kantong plastik untuk giliran dia. I mean like??


Ya Lord. Benar-benar. Major facepalm. Gagal paham, saya dituduh did it on purpose, seolah-olah saya ada dendam apa, saya dituduh tidak mau membeli kantong plastik, dan saran saya ditolak mentah-mentah. Ya mungkin dia benar juga sih, saya memang tidak mau membeli kantong plastik, karena periode sebelumnya saya juga yang beli kantong plastik, terus misal habisnya di jadwal piketnya dia, kenapa dia nggak mau beli kantong plastik? Kenapa harus Addina yang beli? Dan kenapa nggak pakai kantung seadanya dulu baru nanti kita pisahkan, by sementara maksud gw juga nggak nungguin sampe gw balik kelesssss. Ya ampun. Lelah. Sebenarnya drama ini berlanjut, karena tidak berapa lama setelah saya pulang, tempat sampahnya nggak ada kantong plastiknya dong!! (masih aja loh?). Waktu saya buang sampah di situ, saya dimarahi!


PS: Soal kantong plastik ini cukup krusial dan terjadi di flat manapun sih, saya merasa saya selalu menyediakan kantong plastik untuk serumah, mereka cenderung cuek dan tidak peduli, kalau tidak ada kantong plastik, mereka buang aja di tempat sampah, dan tidak semua flatmates mau membuang sampah ke luar (ke tempat sampah besar). Pada akhirnya saya selalu punya kantong plastik saya simpan di kamar, jadi kalau giliran saya piket, saya pakai kantong plastik untuk buang sampah.

4. Penjaga Apartemen Pencari Istri Muslim

Cerita yang ini patut dijadikan pelajaran buat kita semua untuk berhati-hati. Bukan bermaksud mau generalisasi pria-pria Timur Tengah, tapi memang sudah terbukti, beberapa kali diikuti pria-pria tersebut dan diajak ngobrol menggunakan bahasa mereka. Awalnya mereka baik-baik, memberikan tempat duduk di bus/kereta, kemudian ajak ngobrol, dengan Bahasa Italia, kalau saya bilang; Non parlo Italiano, ada beberapa yang kemudian mengajak ngobrol dengan Bahasa Arab; atau kalau sedikit lebih ahli, mereka akan mengajak ngobrol dengan Bahasa Inggris. Dari situ mereka berkenalan, tanya saya orang mana, kuliah di mana, dan sebagainya sebagainya. Bahkan mereka bisa saja mengikuti kalian berhenti di mana sambil ngobrol dengan alasan gapapa mau nganterin aja. Motivasi mereka tak lain dan tak bukan adalah; cari istri!

Salah satu yang paling menyeramkan sebenarnya adalah, salah satu penjaga apartemen saya berasal dari salah satu negara tersebut. Dia baik, ramah menyapa, sampai suatu hari, saat saya sedang terburu-buru ke kampus, penjaga tersebut terburu-buru mendekati saya dan mengajak ngobrol dengan bahasanya (atau Bahasa Italia? saya lupa juga), pokoknya saya bilang; non parlo Italiano. Kemudian saya terburu-buru keluar. Next kesempatan, dia bertanya juga, apa saya muslim, orang mana, kuliah di mana dan sebagainya. Selanjutnya, saya juga diajak ngopi sama dia. Mulai serem. Saya bilang; no, no, grazie.


Keseraman berlanjut, dia juga pernah mengikuti saya ke ruang buang sampah! Tiba-tiba dari belakang (saya menghadap dinding), penjaga apartemen ini seperti kabedon (Bahasa Indonesianya apa ya) saya! Saya cepat-cepat berkelit dan menghindar. Dia bilang dia hanya mau membantu saya membuang sampah. Saya yakin bukan! Sejak saat itu saya selalu takut-takut kalau ke luar rumah di jam-jam kerja nya orang ini. Apalagi kalau apartemen sedang sepi.

PS: Pengalaman buruk ini ternyata tidak cuma menghampiri saya, tapi juga ada 2 teman muslim lain (yang dulu pernah tinggal di situ). Fix, penjaga apartemen ini memang mencari target. Saya segera pindah dari apartemen tersebut.

5. Suara Lift atau Suara Hantu di Musim Dingin

Misteri!! Sampai sekarang kasus ini masih menjadi misteri buat saya. Ceritanya, di suatu malam di musim dingin, kami mendengar suara super seram. Seperti perempuan menangis/menjerit dari arah lorong apartemen sekitar tiga puluh detik. Salah satu flatmate sempat merekam suara tersebut dan kami mendengarkannya lagi bersama-sama. That was really creepy.

Saya sampai googling, apakah hal itu memungkinkan kalau disebabkan oleh bunyi lorong lift. But then, kalau memang suara tersebut disebabkan oleh lorong lift, kenapa kami hanya mendengarnya di musim dingin? Kira-kira sampai satu-dua minggu setelah kejadian tersebut, masing-masing dari kami masih ketakutan untuk sendirian di flat.

PS: Sambil menulis ini saya masih merinding membayangkannya. Anyway, saya sudah pindah dari apartemen tersebut.

Long short story, sepertinya sudah cukup panjang ya satu post (dan baru setengahnya), anyway, cerita-cerita di atas pun belum sampai di puncak keanehannya, go check Flatmates Drama (2) untuk membaca cerita-cerita lainnya yang lebih membuat geram.

See you on the next post!

Addina Faizati

You Might Also Like

0 comments